Connect with us

Jombang

Potret Kemiskinan di Jombang, Kakek-Nenek Tinggal di Gubuk Reot, Bertahan Hidup dari Belas Kasihan Tetangga dan Orang yang Melintas

Diterbitkan

||

Potret Kemiskinan di Jombang, Kakek-Nenek Tinggal di Gubuk Reot, Bertahan Hidup dari Belas Kasihan Tetangga dan Orang yang Melintas
Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Memontum Jombang — Sungguh memprihatinkan hidup pasangan suami istri ini. Di usia yang sudah senja, Supar (65) dan Istrinya Sartini (60) warga Dusun Pagendingan, Desa Tapen, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang harus rela tinggal digubuk reot berukuruan 2,5 x 3 meter di sekitaran sungai Brantas, jauh dari tetangga. Mereka bertahan hidup dari belas kasihan tetangga dan orang yang kebetulan melintasi kediamannya.

“Kulo ten mriki mulai tahun 2006 mas,grio niki nembeh dibangun mantun riaden (Hari Raya). Griyo kulo sampun ambruk,” ujar Supar sambil menunjuk sisa-sisa puing bangunan rumahnya yang ambruk saat hari lebaran beberapa bulan lalu.

Puing-puing rumah Supar yang ambruk beberapa bulan lalu

Puing-puing rumah Supar yang ambruk beberapa bulan lalu

Rumah yang berukuran sekitar 2,5 x 3 meter itu berdiri di atas tanah gogolan (tanah yang dia sewa) seluas 150 bata milik saudaranya. Berdinding gedek (anyaman bambu) dan sebagian dindingnya terbuat dari triplek yang dicat warna putih, memiliki satu kamar dan satu dipan di ruang tamu yang beralaskan tanah. Sedangkan dapur yang ala kadarnya dari gedek itu tampak doyong ke sebelah kiri.

“Enggeh ngeten niki mas, griyo kulo. Alhamdulilah niki mawon welase tonggo-tonggo. Ngertos griyo kulo ambruk, wonten 15 tonggo seng gotong royong mbangunaken. Ngeten niki, jawah-jawah lek pas bareng angin, kulo medal wedi ambruk kados singen (kalau hujan dan angin saya keluar di teras mas, takut ambruk seperti dulu),” terang Sartini istri Supar.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Supar berjualan kulit debog (kulit batang pisang) yang sudah kering. Namun karena musim hujan kulit debognya tak laku. Namun mereka mensyukuri karena masih ada yang peduli, seperti seorang tambal ban dan beberapa orang yang melintas di dekat rumahnya, sering memberinya bantuan berupa uang dan beras. “Kulo mreman (nguli) mboten angsal kaleh mandore. Akhire ngge sadean debog. Ngeten niki sepi mas.Tapi alhamdulilah mas seng tambal ban kalean tiang seng lewat kadang-kadang nyukani arto kalean beras,” ungkapnya.

Prev1 of 2
Use your ← → (arrow) keys to browse

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Trending