Connect with us

Lamongan

Sanggring, Tradisi di Desa Tlemang Berusia Ratusan Tahun

Diterbitkan

||

Sanggring, Tradisi di Desa Tlemang Berusia Ratusan Tahun
Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Memontum Lamongan – Kabupaten Lamongan rupanya menyimpan banyak tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. Satu diantaranya yakni tradisi Sanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang. Kepala Desa Tlemang, Aris Pramono menerangkan Sanggring ini pertama kali dimunculkan oleh Ki Buyut Terik, sebagai jamuan untuk para tamu dan sedekah bumi yang diwariskan secara turun temurun dengan jumlah piring untuk jamuan para tamu, harus sebanyak 44 buah piring.

“Ceritanya Sanggring ini untuk menjamu. Dulu kan ada seperti prajurit, mengundang teman-teman untuk jamuan makan, mengerahkan anak buahnya atau murid-muridnya untuk memasak Sanggring ini,” terang Aris, Senin (4/2/2019).

Sanggring harus dimasak oleh kaum laki-laki, karena menjadi salah satu ritual pensucian

Sanggring harus dimasak oleh kaum laki-laki, karena menjadi salah satu ritual pensucian

Uniknya, sambung Aris, Sanggring yang juga dipercayaan bisa sebagai obat ini, harus dimasak oleh kaum laki-laki, karena Sanggring ini juga menjadi salah satu ritual pensucian.

“Karena orang laki-laki kan nggak punya hadas,” ucapnya. Untuk menentukan yang memasak Sanggring, Aris menyebut tidak ada ritual khusus sebelumnya bagi para juru masak. “Memang nggak ada kriteria tertentu, tapi ada salah satu orang sesepuh yang mendampingi,” ujarnya.

Sanggring ini berupa masakan yang berbahan dasar ayam dengan jumlah ayam yang dimasak disesuaikan dengan jumlah penduduk Desa Tlemang. “Yang ngasih ya warga, tapi setiap keluarga memberi ayam sama bumbu jangkep sama kayunya juga,” kata Yatono, salah satu warga Tlemang turut menambahkan

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Advertisement

Trending