Connect with us

Komunikasi Sosial

Kampanye #byesedotanplastik, CCF Kenalkan Sedotan Dari Tepung Jagung, Kertas dan Bambu

Diterbitkan

||

Eko Baskoro, didampingi asistennya, menunjukkan ragam sedotan dari tepung jagung, kertas dan Bambu, serta totebag dan tumbler. (rhd)

Memontum Kota Malang – Permasalahan sampah menjadi persoalan yang cukup pelik di Indonesia. Pasalnya berkat sampah, Indonesia menduduki posisi kedua dunia penghasil sampah. Terutama sampah plastik yang menjadi penyumbang sampah yang sifatnya sulit didaur ulang, seperti botol dan sedotan plastik yang banyak ditemui diperairan laut Indonesia.

Menyadari kondisi tersebut, Climate Change Frontier (CCF) yang dipandegani Eko Baskoro sejak tanggal 15 Februari 2019 mulai mengkampanyekan #byesedotanplastik. Permasalahan yang disoroti, kebiasaan masyarakat mengkonsumsi minuman di luar seringkali menggunakan sedotan plastik. Berbanding terbalik saat minum di rumah yang langsung dari gelas.

“Memang tidak mudah mengganti sedotan plastik. Saat turun ke lapangan, orang-orang dari perhotelan menanyakan, jika tidak menggunakan sedotan plastik, lalu menggunakan apa? Namun jika tidak dimulai sekarang, terus kapan? Tujuan akhir dari kampanye #byesedotanplastik sebenarnya adalah tanpa sedotan atau meninggalkan sedotan. Kan tak harus dari plastik, bisa dari bahan lain kan. Ada sedotan dari tepung jagung, ada sedotan yang terbuat dari kertas dan ada sedotan dari bambu. Yang terpenting mereka bisa mengurangi penggunaan sedotan plastik,” ungkap Baskoro, sapaan akrabnya, di sela kampanye di Universitas Ma Chung, akhir pekan lalu.

Dikatakan Baskoro, sedotan tepung jagung butuh enam bulan agar dapat terurai. Sedangkan sedotan kertas lebih cepat rusak 1-2 jam setelah terkena air, lebih cepat air panas dibandingkan air dingin. Berkat kampanye #byesedotanplastik, kini banyak hotel, restoran, maupun kafe di Malang Raya, Surabaya, Bojonegoro, hingga Bali, perlahan meninggalkan sedotan plastik untuk konsumen mereka.

“Kami tidak membuat, tapi CCF menggandeng perusahaan Avani dari Bali dan Bedaclass dari Tangerang, untuk penyediaan sedotan dari tepung jagung. Kita bantu mendatangkan. Bagi masyarakat umum, bisa kok mencarinya di beberapa marketplace,” jelas Baskoro, sembari menambahkan, selain kampanye #byesedotanplastik, CCF juga mengkampanyekan penggunaan totebag pengganti tas kresek, penggunaan tumbler pengganti botol plastik air kemasan.

Disinggung pengolahan sampah di Indonesia, Baskoro menjawab diplomatis merujuk posisi Indonesia yang menempati peringkat kedua sebagai penghasil sampah plastik terbanyak di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini peran pemerintah melalui kinerja bank sampah sebagai tempat daur ulang sampah belum berjalan maksimal.

“Dari pihak pemerintah melalui Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti yang mengatakan, Indonesia menempati urutan nomor dua terbesar penyumbang sampah plastik terbesar yang dibuang ke laut setelah Cina. Itu berarti peran dari bank sampah belum maksimal. Karena tanpa regulasi atau aturan yang jelas dari pemerintah, maka akan percuma. Jika selama ini CCF ketika turun ke masyarakat tanpa dibantu pemerintah. Sekarang waktunya pemerintah yang turun langsung ke lapangan,” tandasnya. (adn/yan)

 

Advertisement

Trending