Connect with us

Bondowoso

Bondowoso Sambut Tahun Baru Islam dengan Arebbe Tajin Sorah

Diterbitkan

||

LESTARIKAN BUDAYA: Bupati KH.Salwa Arifin dan Wabup H. Irwan Bachtiar Rahmat saat Arebbe Tajin Sorah sambut Tahun Baru Islam 1441 H pada Sabtu sore (31/9/2019) lalu

Memontum Bondowoso – Masyarakat Bondowoso menyambut Tahun Baru Islam 1441 Hijriah dengan suka cita. Bersama Bupati KH. Salwa Arifin, Wabup H. Irwan Bachtiar Rahmat, Sekda H. Syaifullah, pejabat Forkopimda, para kepala OPD pemkab, dan pimpinan perbankan, masyarakat Kota Tape –julukan Bondowoso- dengan pakaian serba putih berkumpul di Alun-alun RBA Ki Ronggo menggelar tradisi arebbe tajin sorah (selamatan bubur suro, red), Sabtu sore (31/8/2019) lalu.

Ratusan tajin suro yang diwadahi kendi lengkap dengan lauknya, ditata rapi di nampan bambu. Sebelum dikonsumsi, tajin suro diarak-arak dari Pendapa Bupati menuju Monumen Gerbong Maut di kawasan Alun-alun RBA Ki Ronggo. Kemudian, masyarakat menggelar doa bersama dipimpin kiyai kharismatik Bondowoso, KH. Imam Barmawi Burhan.

Bupati Salwa menjelaskan, arebbe (selamatan, red) berasal dari bahasa Arab yang berarti arwah. Karena itu, arebbe tajin sorah merupakan kiriman doa dan shodaqoh kepada arwah-arwah leluhur, ulama, dan pejuang yang berjuang untuk Kemerdekaan RI.

”Semoga doa kita sampai kepada para pendahulu, para pejuang, dan alim ulama untuk membangun Indonesia, khususnya Bondowoso Melesat,” jelasnya.

Untuk itu, Bupati Salwa mengajak masyarakat Bondowoso menyongsong Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah dengan penuh semangat, bergairah, dan penuh keseriusan. Selain itu, dia mengharapkan segala kekhilafan yang dilakukan tahun lalu dijadikan sebagai pelajaran dalam menyongsong hari depan yang lebih baik.

”Mari kita bertekad ke depan dengan meningkatkan ibadah dan kinerja kita demi mewujudkan Bondowoso yang lebih baik,” katanya.

Wabup Irwan menambahkan, tradisi arebbe tajin sorah juga bagian dari upaya melestarikan budaya Bondowoso. Karena, arebbe tajin sorah merupakan tradisi lama masyarakat yang sudah mulai punah, akibat perubahan zaman yang terus berkembang.

”Dulu kan kalau sudah suro, pasti ada tajin suroh. Nah, sekarang tradisi itu sudah jarang dilakukan masyarakat banyak dan mulai punah. Untuk itu, kita galakkan kembali. Ini bentuk dari Bondowoso melestarikan budaya khas masyarakat,” tambahnya. (ido/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Trending