Connect with us

Kabupaten Malang

Soguk, Uri-Uri Budaya Madura di Malang Raya

Diterbitkan

||

Upacara Soguk di Desa Sukorejo Gondanglegi beberapa Waktu lalu. (sur)

Tradisi Buwuhan, Nominal Uang Puluhan Hingga Ratusan Juta

Memontum Malang – Pererat tali persaudaraan dengan tradisi kondangan (buwuhan) dalam acara pernikahan maupun khitanan di wilayah Malang Raya itu hal biasa.

Tetapi di beberapa wilayah Malang Selatan, tradisi sumbang menyumbang ini ternyata cukup unik. Dalam tradisi yang sudah dilestarikan sekitar 15 tahun lalu oleh kebanyakan warga keturunan Madura ini dikemas dalam bentuk budaya yang populer dengan nama ‘Soguk’.

H Sugiyanto Salah Seorang Peserta Sogug. (H Mansyur Usman/Memontum.Com)

H Sugiyanto Salah Seorang Peserta Sogug. (H Mansyur Usman/Memontum.Com)

Tak tanggung-tanggung,dari nominal uang yang disumbangkan kepada tuan rumah ternyata lumayan besar, mulai dari ratusan ribu, jutaan bahkan hingga puluhan juta rupiah dengan. Dari total pendapatan tradisi ini bisa tembus diangka milyaran rupiah.

H Sugianto, salah seorang peserta Sogug menjelaskan, tujuan dilestarikan tradisi ini, selain menguri-uri budaya Madura juga mengumpulkan saudara-saudara.

“Untuk jumlah peserta Sogukan di Malang Raya saat ini sekitar 450 orang dibawah pimpinan H Seruji Desa Gampingan Pagak, ” terang warga Desa Jatikerto Kromengan ini Senin (9/9/2019) siang.

Tambah sosok yang juga pengusaha kayu sono keling ini, untuk satu kali gebyar,seorang yang punya hajat bisa tarik dana mulai dari Rp 800 juta hingga Rp 1,7 miliar.

“Sogukan ini kan sistem arisan, untuk cara pengembaliannyapun tidak harus dilebihi. Namun, ada sebagian peserta dalam istilah nitip. Misalkan, dana yang wajib dikembalikan sebesar Rp 10 juta, tetapi karena masih ada rencana ke depan, buwuhan itu dibengkakkan menjadi Rp 20 juta, ” ulas sosok yang mengaku pernah punya hajat dengan pendapatan Rp1,7 miliar ini.

Itulah Soguk, sebuah tradisi yang dilestarikan di Malang Raya yang terpengaruh oleh budaya madura yang kuat. sogug sendiri adalah prosesi memberikan uang sumbangan, atau di jawa dikenal sebagai buwuhan.

Bedanya, kalau di Jawa jumlah uang sumbangan tidak ditampakkan.Tetapi,untuk tradisi sogugan uang sumbangan dipajang dan diapit dipotongan bambu dengan diiringi tradisi gending.

Pemilik rumah di pintu depan terop, dengan iringan gamelan kenong telo’ dan seorang pesinden yang suaranya amat merdu. (sur/oso)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Trending